NusaOne.id | Banda Aceh — Kelangkaan gas LPG 3 kilogram di Kota Banda Aceh semakin memprihatinkan pascabanjir yang melanda Aceh sepekan lalu. Hingga kini, pasokan gas subsidi belum juga normal, memaksa warga kembali menggunakan cara-cara darurat dan berisiko untuk memasak demi bertahan hidup.
Di tengah situasi tersebut, Sarlimawati (46), warga Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kuta Raja, terpaksa membuat tungku masak seadanya di dalam rumahnya. Dengan memanfaatkan minyak jelantah dan tisu, ibu satu anak ini tetap memasak meski menyadari risiko keselamatan yang mengintai.
“Sudah tiga hari gas habis di rumah. Saya cari ke pangkalan, kios, sampai keliling, tapi gas melon benar-benar kosong,” ujar Sarlimawati kepada NusaOne.id, Senin (8/12/2025).
Ia mengaku tidak memiliki pilihan lain. Baginya, memasak secara manual adalah satu-satunya cara agar keluarganya tetap dapat makan, meski dilakukan dalam keterbatasan dan penuh kekhawatiran.
“Kami tidak bisa menunggu terlalu lama. Kalau tidak masak, anak mau makan apa? Mengeluh juga tidak ada gunanya. Yang bisa kami lakukan hanya bertahan sambil menunggu pemerintah turun tangan,” tuturnya dengan nada getir.
Kelangkaan LPG ini menunjukkan rapuhnya distribusi gas subsidi di saat kondisi darurat. Hingga berita ini diturunkan, belum ada kejelasan terkait penambahan pasokan atau langkah konkret pemerintah untuk mengatasi krisis LPG 3 kilogram di Kota Banda Aceh.
Sarlimawati berharap pemerintah segera hadir dengan solusi nyata. Menurutnya, gas LPG bukan sekadar kebutuhan rumah tangga, melainkan penopang utama kehidupan masyarakat kecil.
“Kami masih bisa bertahan meski listrik sering padam, tapi tanpa gas, kami benar-benar lumpuh. Kalau kondisi ini dibiarkan lama, warga kecil yang paling menderita,” tegasnya.
Kelangkaan gas LPG 3 kilogram pascabanjir ini menuntut respons cepat dan terukur dari pemerintah serta pihak terkait, agar masyarakat tidak terus dipaksa bertahan dengan cara-cara darurat yang berpotensi membahayakan keselamatan. (CMA)

















