Bireuen -nusaone.id Suasana haru dan kebahagiaan mewarnai kegiatan pemulihan psikososial yang digelar Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) di Kecamatan Jangka dan Kecamatan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen, Sabtu (28/12/2025). Kegiatan ini melibatkan anak-anak dari enam gampong di dua kecamatan yang terdampak banjir.
Di Kecamatan Jangka, kegiatan diikuti anak-anak dari Gampong Kuala Ceurape, Alue Baye Utang, Alue Kutadan, dan Ulee Ceu. Sementara di Kecamatan Kuta Blang, kegiatan melibatkan anak-anak dari Gampong Jambo Keurumbok dan Jamboe Kajeng.
Hadir langsung dalam kegiatan tersebut Tokoh Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi atau Kak Seto, yang menyapa anak-anak dengan penuh kehangatan dan empati. Bersama komedian Aceh Bang Joni, Kak Seto menghadirkan suasana ceria melalui permainan, dialog ringan, dan pendekatan emosional yang menyentuh hati anak-anak.
Ketua LPAI Aceh, Marzuki Ahmad, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pemulihan psikososial bagi anak-anak korban banjir yang masih menyisakan trauma mendalam.
“Anak-anak ini bukan hanya kehilangan rumah, tetapi juga rasa aman. Kehadiran Kak Seto dan semua pihak hari ini adalah bentuk kepedulian untuk memulihkan semangat dan mental mereka,” ujar Marzuki.
Kegiatan ini juga didukung oleh Konselor Universitas Jabal Ghafur Sigli, T. Fadhli, serta tim LPAI Aceh yakni Vernanda Erika Dani, Farida Ayu Saputri, Nasruddin dan M. Dahron yang secara aktif mendampingi anak-anak selama proses pemulihan berlangsung.
Menurut Marzuki, penyatuan anak-anak dari enam gampong di dua kecamatan bertujuan membangun rasa kebersamaan, saling menguatkan, dan menumbuhkan kembali harapan pascabencana.
“Kami ingin anak-anak merasa bahwa mereka tidak sendiri. Ada banyak tangan yang peduli dan siap mendampingi mereka bangkit kembali,” tegasnya.
Kegiatan ini diisi dengan berbagai aktivitas edukatif dan permainan yang dirancang untuk membantu anak-anak mengekspresikan perasaan, mengurangi trauma, serta menumbuhkan kembali rasa aman dan percaya diri.
LPAI Aceh berharap kegiatan ini dapat menjadi pemantik bagi semua pihak, terutama pemerintah daerah, agar pemulihan psikososial anak menjadi bagian penting dalam setiap penanganan bencana ke depan.


















