nusaone.id – Pidie Jaya
Pidie Jaya — Pascabanjir yang melanda Kabupaten Pidie Jaya sejak 26 Februari 2025 hingga Sabtu (7/2/2026), menyebabkan kondisi lingkungan di sejumlah gampong terdampak masih memprihatinkan.
Kerusakan lingkungan terjadi karena pepohonan dan tanaman kebun warga banyak yang mengering akibat tertimbun lumpur setebal lebih dari 50 sentimeter. Sampai saat ini, lumpur tersebut belum dibersihkan secara menyeluruh.

Banjir sebelumnya merendam kawasan permukiman, lahan pertanian, dan perkebunan warga selama beberapa hari. Saat air surut, sisa lumpur menutupi perakaran pohon, membuat tanaman kesulitan menyerap air dan unsur hara.
Warga setempat menyebutkan, sebelum banjir melanda, pepohonan di kawasan tersebut tumbuh subur dan hijau. Namun setelah banjir, banyak tanaman mulai menguning hingga mengering.
Seorang warga menjelaskan, “Akar pohon tertimbun lumpur lebih dari lima puluh sentimeter. Setelah itu, pohon mulai mengering dan mati perlahan.”
Selain tertimbun lumpur, genangan air yang berlangsung cukup lama menyebabkan sistem perakaran sebagian tanaman membusuk sehingga tanaman tidak mampu bertahan.
Kerusakan paling parah dialami oleh pohon jenis darat dan tanaman kebun milik warga. Sementara sebagian tanaman keras lainnya masih mampu bertahan, meski pertumbuhannya terganggu.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran masyarakat karena pepohonan memiliki fungsi penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan mencegah bencana lanjutan seperti erosi dan longsor.
Selain kerusakan lingkungan, rusaknya tanaman kebun juga berdampak pada mata pencaharian warga yang menggantungkan hidup dari hasil pertanian dan perkebunan.
Hingga lebih dari satu tahun pascabanjir, masyarakat mengaku belum melihat adanya langkah nyata dari pemerintah daerah terkait rehabilitasi lingkungan dan penghijauan kembali di wilayah terdampak.
Masyarakat berharap pemerintah segera mengambil tindakan konkret, mulai dari pembersihan lumpur, pendataan kerusakan, hingga program penghijauan kembali, agar alam Pidie Jaya pulih dan kembali hijau secara bertahap dan berkelanjutan.
Penulis & Foto: Arju Na Fahlefi
Lahan pertanian, dan perkebunan warga selama beberapa hari. Saat air surut, sisa lumpur menutupi perakaran pohon, membuat tanaman kesulitan menyerap air dan unsur hara



















