nusaone.id – Pidie Jaya – Sejumlah warga korban banjir di Kabupaten Pidie Jaya menyuarakan harapan agar pemerintah daerah memperhatikan seluruh masyarakat terdampak tanpa membedakan lokasi tempat tinggal.
Keluhan ini muncul karena sebagian warga menilai kunjungan dan bantuan lebih banyak difokuskan kepada korban yang tinggal di hunian sementara (huntara). Sementara itu, warga yang tetap bertahan di rumah masing-masing merasa belum mendapatkan perhatian yang sama.
Salah seorang warga menyampaikan bahwa meski tidak tinggal di huntara, mereka tetap mengalami kerugian besar akibat banjir. “Rumah kami rusak, perabotan banyak yang tidak bisa dipakai lagi. Kami juga korban,” ujarnya, Minggu (22/2/2026).
Masyarakat berharap Bupati Pidie Jaya Sibral Malasyi, M.A., S.Sos., M.E. dan Wakil Bupati Hasan Basri, S.T., M.M. dapat meninjau langsung kondisi warga terdampak di luar huntara.
Menurut warga, bantuan yang merata sangat dibutuhkan untuk mempercepat proses pemulihan pascabencana. Mereka menginginkan pendataan ulang agar seluruh korban terakomodir secara adil.
Selain kerusakan fisik bangunan, warga juga mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari akibat aktivitas ekonomi yang terganggu sejak banjir melanda.
“Mereka menilai seluruh korban banjir memiliki hak yang sama atas bantuan dan perhatian pemerintah, tanpa memandang apakah tinggal di huntara atau tidak,” kata salah seorang warga.
Warga juga meminta unsur Forkopimda di Pidie Jaya ikut mengawal proses distribusi bantuan agar tidak terjadi ketimpangan di lapangan.
Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Pidie Jaya sebelumnya menyebabkan ratusan rumah terdampak dan sebagian warga terpaksa mengungsi.
Kini, masyarakat berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret dengan melakukan evaluasi dan memastikan penyaluran bantuan berjalan transparan, tepat sasaran, dan menyentuh seluruh korban banjir di Pidie Jaya.
Penulis & foto Arju Na Fahlefi
Keluhan ini muncul karena sebagian warga menilai kunjungan dan bantuan lebih banyak difokuskan kepada korban yang tinggal di hunian sementara (huntara). Sementara itu, warga yang tetap bertahan di rumah masing-masing merasa belum mendapatkan perhatian yang sama.



















