PIDIE JAYA –nusaone.id Sebulan setelah banjir bandang melanda Kabupaten Pidie Jaya pada 26–27 November 2025, kondisi di sejumlah wilayah terdampak masih sangat memprihatinkan. Hingga Minggu, 28 Desember 2025, hamparan lumpur kering dan pasir masih menutupi permukiman serta lahan pertanian warga.
Pantauan di lapangan menunjukkan kawasan terdampak tampak gersang dan berdebu, bahkan menyerupai padang pasir. Material banjir yang mengendap dan mengeras akibat terik matahari belum sepenuhnya dibersihkan.

Di beberapa lokasi, timbunan lumpur dan pasir mencapai ketinggian hingga sekitar 2,5 meter. Ketebalan material tersebut membuat upaya pembersihan secara manual hampir tidak mungkin dilakukan oleh warga.
Akibat kondisi itu, banyak sawah dan kebun warga belum bisa difungsikan kembali. Lahan pertanian yang sebelumnya menjadi sumber penghidupan utama kini tertutup total oleh pasir dan lumpur, menyebabkan gagal panen.
Tidak hanya lahan pertanian, rumah-rumah warga juga mengalami kerusakan parah. Lumpur dan pasir masih memenuhi bagian dalam rumah, sehingga bangunan belum layak untuk dihuni kembali.
Bahkan hingga saat ini, masih banyak warga terdampak yang terpaksa bertahan di lokasi pengungsian karena belum dapat kembali ke rumah masing-masing. Mereka menunggu proses pembersihan dan perbaikan yang belum kunjung tuntas.
“Materialnya sangat tebal, bisa sampai dua setengah meter. Tanpa alat berat kami tidak sanggup membersihkannya sendiri, jadi kami masih mengungsi,” ujar salah seorang warga terdampak.
Selain rumah dan lahan pertanian, sisa material banjir juga menutup badan jalan dan saluran irigasi. Kondisi ini menghambat mobilitas warga serta dikhawatirkan mengganggu aliran air saat hujan turun.
Warga menilai penanganan pascabencana masih terkendala minimnya peralatan yang memadai. Hingga kini, alat berat untuk mengangkat lumpur dan pasir belum tersedia secara optimal di seluruh wilayah terdampak.
Masyarakat berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait segera mengambil langkah konkret, terutama dengan menurunkan alat berat dan mempercepat proses rehabilitasi lingkungan.
Banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025 tersebut menjadi salah satu bencana terbesar di Pidie Jaya dalam beberapa tahun terakhir, meninggalkan dampak panjang terhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan lingkungan masyarakat.



















