BANDA ACEH –nusaone.id Wakil Gubernur Aceh, H. Fadhlullah, S.E., menegaskan bahwa keteguhan masyarakat Aceh dalam menjaga komitmen menjadi kunci utama keberlangsungan perdamaian selama dua dekade terakhir di Tanah Rencong.

Hal itu disampaikan Fadhlullah saat menerima kunjungan peserta Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Badan Intelijen Negara (BIN) di Aula Rumah Dinas Wakil Gubernur Aceh, Selasa (7/10/2025) malam.
“Sudah dua puluh tahun kita hidup dalam suasana damai. Banyak pihak bertanya, mengapa perdamaian di Aceh bisa bertahan lama? Jawabannya karena masyarakat Aceh berpegang teguh pada komitmen. Inilah pondasi kuat yang menjaga perdamaian tetap hidup,” ujar Fadhlullah yang akrab disapa Dek Fadh.
Ia menyebut, keteguhan masyarakat Aceh dalam menjaga perdamaian menjadi perhatian dunia internasional. Menurutnya, para duta besar negara sahabat yang hadir pada peringatan 20 tahun Hari Damai Aceh beberapa waktu lalu mengaku kagum terhadap kemampuan Aceh menjaga stabilitas sosial dan keamanan dalam jangka panjang setelah konflik bersenjata.
Diketahui, peringatan dua dekade perdamaian Aceh di Balee Meuseuraya Aceh dihadiri oleh perwakilan dari 14 kedutaan besar, empat di antaranya hadir langsung.
Fadhlullah menambahkan, masyarakat Aceh telah belajar banyak dari masa lalu. “Tidak ada kemenangan dalam peperangan. Yang ada hanya kesedihan dan kerugian bagi semua pihak. Karena itu, kami memilih perdamaian sebagai jalan menuju kemenangan bersama,” tegasnya.
Meski diakui masih ada beberapa poin Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki yang belum sepenuhnya terealisasi, Fadhlullah menegaskan bahwa masyarakat Aceh tetap berkomitmen menjaga suasana aman dan damai di tengah kehidupan sosial.
Pertemuan dengan peserta Diklat BIN itu berlangsung dalam suasana hangat dan interaktif. Para peserta berdialog langsung dengan Wagub Aceh mengenai proses rekonsiliasi dan pembangunan pasca-damai.
Sementara itu, Ketua Tim Diklat BIN, Soemirati Baskoro, menjelaskan bahwa peserta Diklat dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing ditempatkan di Aceh dan Sulawesi Utara. “Kami memilih dua daerah ini karena memiliki karakteristik berbeda, yakni daerah pasca-konflik dan daerah perbatasan. Ini penting untuk memperkaya wawasan peserta terhadap dinamika sosial dan keamanan nasional,” ujarnya.
Soemirati juga menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat dari Wakil Gubernur Aceh. “Kami yakin, dengan kepemimpinan Pak Mualem dan Pak Fadhlullah yang dekat dengan masyarakat, Aceh akan semakin maju dan harmonis,” tutupnya.



















