nusaone.id – Bireun – Tokoh ulama dan pembina Dayah Rauhul Mudi Al-Aziziyah, Tgk. H. Muhammad Yusuf M. Nasir yang akrab disapa Abiya Jeunieb, kembali menyampaikan nasihat mendalam bagi para santri dan orang tua. Dalam sebuah kajian agama, ia mengajak seluruh umat untuk meneladani semangat para ulama terdahulu dalam menuntut ilmu.
Menurut Abiya, menuntut ilmu agama tidak bisa dilakukan dengan setengah hati. Ia menekankan bahwa kesungguhan atau “nekat” menjadi kunci utama agar ilmu yang didapat benar-benar bermanfaat dan membawa keberkahan di masa depan.
Dalam penyampaiannya, Abiya mengisahkan kembali kisah inspiratif perjalanan menuntut ilmu Imam Syafi’i. Kisah ini diangkat sebagai contoh nyata bagaimana keteguhan hati dan dukungan orang tua menjadi fondasi keberhasilan seorang ulama besar.
Tokoh yang menjadi teladan dalam kisah tersebut adalah Imam Syafi’i, salah satu imam mazhab yang sangat dihormati di dunia Islam. Sementara pesan ini disampaikan langsung oleh Tgk. H. Muhammad Yusuf M. Nasir (Abiya Jeunieb) kepada jamaah dan santrinya.
Pesan inspiratif ini disampaikan di lingkungan Dayah Rauhul Mudi Al-Aziziyah, tempat di mana Abiya Jeunieb membina ribuan santri. Suasana pengajian berlangsung khidmat, penuh hikmah, dan menyentuh hati setiap yang mendengarkan.
Penyampaian pesan ini dilakukan dalam salah satu sesi kajian rutin yang kerap digelar oleh Abiya Jeunieb. Momen ini menjadi waktu yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai luhur pendidikan agama kepada generasi muda.
Kisah ini diangkat untuk membangkitkan semangat para santri agar tidak mudah menyerah dalam menuntut ilmu. Selain itu, sebagai pembelajaran bagi para orang tua tentang bagaimana seharusnya mendukung dan mendoakan anak-anaknya demi masa depan yang cerah.
Abiya menuturkan kisah tersebut dengan bahasa yang sederhana namun menyentuh kalbu. Ia menguraikan dialog antara Imam Syafi’i dan ibundanya, yang menunjukkan betapa besarnya pengorbanan dan kepercayaan yang diberikan oleh seorang ibu.
Dalam kisah yang diceritakan Abiya, ibunda Imam Syafi’i berpesan agar anaknya pergi menuntut ilmu ke pesantren atau dayah. Ia memberikan wejangan tegas, “Pergilah ke pesantren, jikalau engkau sudah ‘malem (alim)’ (berhasil/mahir), jangan sekali-kali pulang.”
Bahkan pesan itu dipertegas lagi, “Dan jika engkau belum ‘malem (alim)’ atau belum diizinkan oleh gurumu, jangan sekali pun engkau pulang ke rumah.” Pesan ini menegaskan bahwa menuntut ilmu harus tuntas dan tidak boleh berhenti di tengah jalan.
Mendengar pesan itu, Imam Syafi’i sempat ragu dan bertanya, “Ibunda sudah tua, nanti siapa yang menjaga ibu?” Menjawab keraguan anaknya, sang ibu dengan penuh keyakinan menjawab, “Ada Allah Taala yang akan menjagaku selama engkau menuntut ilmu.”
Tidak hanya itu, ibunda Imam Syafi’i juga memberikan pesan harapan, “Seandainya dirimu sudah ‘malem(alim)’ atau sudah sukses dan berilmu, dirikanlah tempat pengajian di tempat ini.” Hal ini menunjukkan visi orang tua agar ilmu yang didapat dapat dibagikan kembali kepada orang lain.
Abiya Jeunieb menegaskan bahwa itulah doktrin atau pola pikir seorang orang tua yang hebat dalam mendidik anaknya. Dukungan moril, doa, dan kepercayaan yang diberikan menjadi modal berharga bagi anak untuk meraih cita-cita setinggi langit.
Melalui kisah ini, Abiya berharap semangat Imam Syafi’i dan keteguhan hati ibundanya dapat menjadi inspirasi bagi keluarga di Aceh. Menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh serta dukungan penuh orang tua adalah jalan terbaik untuk mencetak generasi yang berilmu dan bermanfaat bagi agama serta bangsa.
Redaksi. Arju Na Fahlefi
Foto. (**)
Abiya menuturkan kisah dengan bahasa yang sederhana namun menyentuh kalbu

















