Home / News / Opini

Sabtu, 20 September 2025 - 21:59 WIB

Skandal Borok Petinggi Konoha: Nafsu, Uang, dan Pengkhianatan Rakyat

Nusaone.id | Konoha — Ironi negeri ini semakin menusuk. Di saat rakyat menjerit dengan harga beras melambung, biaya pendidikan kian mencekik, dan lapangan kerja yang makin sempit, para petinggi justru sibuk mempertontonkan hidup glamor. Rumah bak istana, arloji ratusan juta, hingga pesta makan di restoran mewah berseliweran di media sosial. Semua itu hanyalah panggung pencitraan. Di balik layar, borok sesungguhnya menganga: lingkaran gelap escot elite yang dijadikan pelengkap gaya hidup pejabat.

Kamuflase Perempuan Eksekutif

Fenomena ini bukan sekadar gosip murahan. Para leadis escot hadir bukan dengan dandanan murahan, melainkan berpenampilan profesional: pengusaha, sales otomotif, bahkan CEO media gadungan. Identitas “kelas eksekutif” itu jadi tiket masuk ke ruang-ruang pejabat tinggi. Dari ketua DPR, kepala dinas, hingga bupati, mereka jadi incaran.

Baca Juga |  Peringati HUT RI ke 80, KPA Sagoe 131 Wilayah Peureulak Gelar Syukuran

“Target mereka jelas. Mereka masuk lewat banyak pintu, termasuk lewat media. Bahkan ada yang mengaku pemilik media demi mendekati pejabat,” ungkap seorang wartawati senior dengan nada geram.

Wartawan Jadi Perantara

Lebih memprihatinkan lagi, sebagian wartawan justru ikut bermain. Buku telepon penuh nomor pejabat penting berubah jadi tambang emas. Dari situ, daftar target disusun. Telepon, pertemuan, hingga eksekusi: pejabat dipancing, digoda, lalu terjerat. Awalnya sekadar godaan, lama-lama jadi candu, dan akhirnya terperangkap dalam lingkaran pemerasan.

Baca Juga |  Kapolres Pidie Kunjungi Anak Bibir Sumbing, Hadirkan Harapan Lewat Operasi Gratis

Pejabat Jadi ATM Hidup

Hasilnya? Banyak pejabat berubah menjadi “ATM hidup.” Ada yang dipaksa menanggung apartemen, ada yang membelikan mobil mewah, ada pula yang mendanai liburan ke luar negeri. Semua demi memuaskan nafsu pribadi, sementara rakyat hanya bisa gigit jari menghadapi beban hidup yang makin berat.

Kemunafikan Jadi Budaya

Ini bukan fenomena baru. Pasca-reformasi 1999, praktik seperti ini sempat meredup. Namun kini, ia bangkit dengan wajah lebih licin, lebih rapi, dan jaringan lebih terstruktur. Pejabat yang di depan podium lantang bicara soal moral, bahkan pandai mengutip ayat suci, ternyata di balik meja rapat larut dalam pesta maksiat. Inilah wajah asli kemunafikan yang menjijikkan.

Baca Juga |  Wagub Aceh Dorong Verifikasi Ulang Ganti Rugi Tanaman Proyek Tol Padang Tiji–Seulimeum

Peringatan Keras

Jika lingkaran setan ini dibiarkan, negeri ini hanya akan makin terpuruk. Integritas pejabat runtuh, kebijakan publik diperdagangkan, dan rakyat tetap jadi korban.

Tulisan ini menutup dengan peringatan keras: wahai para pejabat negeri Konoha, tanggalkan topengmu. Ingat sumpah jabatanmu. Jangan khianati rakyat yang memberi mandat. Jika tidak, sejarah akan menuliskan namamu bukan sebagai pemimpin, melainkan sebagai pengkhianat bangsa yang menjual kehormatan demi nafsu murahan.

Penulis : Chairan Manggeng

Share :

Baca Juga

Daerah

Pangdam Iskandar Muda Hadiri Vicon Launching Operasionalisasi 1.061 Titik KDKMP Seluruh Indonesia di Aceh Besar

Daerah

Kapolda Aceh Hadiri Panen Raya Jagung Serentak Kuartal II dan Salurkan Bibit Jagung kepada Kelompok Tani di Aceh Singkil

Daerah

Kapolda Aceh Kunker Ke Polres Aceh Singkil, Apresiasi Kinerja Personel Pasca Banjir dan Tekankan Jaga Citra Polri

Daerah

Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Polres Aceh Besar Gelar Panen Raya Jagung Serentak Kuartal II Tahun 2026

Daerah

Polresta Banda Aceh Tanggapi Terkait Korlap ARA Layangkan Surat Permohononan Kegiatan Aksi Unras di Saat Libur Bersama

Daerah

Tim Rimueng Ungkap Kasus Pencurian Dengan Kekerasan, Korban Berlumuran Darah

Headline

Jago Merah Mengamuk di Paya Baroh, Satu Rumah Warga Hangus Terbakar

Daerah

Kunker ke Polres Subulussalam, Kapolda Aceh Minta Jajaran Tingkatkan Pengawasan Peredaran Narkoba Serta Tandatangani Prasasti Lapangan Tembak