NusaOne | Pidie – Sebuah nama panggilan seringkali tidak lahir begitu saja. Di balik sebutan “JANENG” yang kini melekat pada Muhammad Junaidi, tersimpan kisah panjang tentang persahabatan, kebiasaan, dan interaksi sosial yang bermula dari sebuah bangunan sederhana di Kuala Pidie.
Pada masa lalu, sebuah bangunan di Kuala Pidie difungsikan sebagai kantor sekaligus tempat berkumpul bagi sejumlah rekan. Mereka datang dari berbagai latar belakang profesi – mulai dari tukang las, pekerja swasta, hingga anggota TNI. Tempat itu menjadi ruang untuk berdiskusi, bercanda, dan merasakan kebersamaan.
Di antara mereka ada M. Dahlan, sosok yang dikenal luas di lingkungan tersebut. Ia merupakan pemilik bengkel las yang berlokasi di depan Pos Gegana, kawasan Blok Bengkel. Almarhum memiliki kebiasaan unik: sering mengucapkan kata khas “JANENG”, yang kemudian menjadi awal mula lahirnya nama panggilan tersebut.
Dari Kebiasaan Menjadi Identitas
Muhammad Junaidi kerap mengunjungi bengkel M. Dahlan. Kedekatan mereka terjalin bukan hanya karena pertemanan, tetapi juga kesamaan hobi dalam memelihara dan menggemari ayam siam (ayam jago).
Karena sering bertemu dan mendengar kata “JANENG” dari M. Dahlan, secara perlahan Muhammad Junaidi juga mulai mengucapkannya dalam berbagai kesempatan. Kata itu pun melekat dalam kehidupannya sehari-hari dan semakin dikenal oleh lingkungan sekitar.
Peran Muhammad Saleh dalam Memopulerkan Nama “JANENG”
Cerita ini melanjutkan dengan kedatangan Muhammad Saleh, yang saat itu bertugas di Kantor Danramil Kota Sigli. Keduanya berasal dari Aceh Selatan, sehingga terjalin kedekatan emosional yang kuat.
Dalam interaksi sehari-hari, Muhammad Saleh mulai memanggil Muhammad Junaidi dengan sebutan “JANENG”. Dari sinilah nama panggilan tersebut semakin populer dan dikenal luas, tidak hanya di kalangan teman, tetapi juga masyarakat sekitar.
Jejak yang Tersisa
M. Dahlan, sosok awal yang memperkenalkan kata “JANENG” dalam lingkungan tersebut, kini telah wafat. Alamat terakhir almarhum berada di Perumnas Rawa, Kecamatan Pidie. Meski telah tiada, jejak kebiasaan dan pengaruhnya tetap hidup melalui kisah ini.
Sementara itu, Muhammad Saleh – mantan Danramil Kota Sigli – dikenang sebagai sosok yang turut memopulerkan nama panggilan “JANENG” hingga dikenal luas.
Penegasan: Bukan Fitnah, Melainkan Kisah Sejarah
Perlu ditegaskan bahwa kisah asal-usul nama “JANENG” ini bukan fitnah dan tidak dimaksudkan untuk mencemarkan nama baik pihak mana pun. Cerita ini disampaikan sebagai bagian dari rekam jejak sosial dan sejarah pergaulan masyarakat.
Penulis dan pihak terkait siap menghadirkan saksi jika diperlukan di kemudian hari, guna menguatkan kebenaran kisah ini secara objektif dan bertanggung jawab.
Kisah ini menjadi bukti bahwa sebuah nama panggilan sederhana dapat menyimpan cerita panjang tentang persahabatan, kebersamaan, dan perjalanan hidup seseorang di tengah masyarakat.(**)



















