Home / Headline / News

Minggu, 8 Maret 2026 - 08:13 WIB

Armiyadi Minta Pemerintah Aceh Evaluasi Izin Indomaret dan Alfamart

Nusaone / Banda Aceh – Keberadaan jaringan minimarket waralaba nasional seperti Indomaret dan Alfamart kembali menjadi sorotan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA).

Wakil Ketua Komisi III DPRA Armiyadi, SP, meminta pemerintah daerah untuk mengevaluasi izin operasional kedua ritel tersebut karena dinilai belum memberikan dampak signifikan bagi perekonomian daerah.

Menurut Armiyadi, keberadaan minimarket waralaba besar justru berpotensi menekan usaha kecil dan menengah milik masyarakat Aceh. Kehadiran ritel modern dengan jaringan distribusi yang kuat membuat banyak toko kelontong dan pedagang tradisional kesulitan bersaing.

Ia menilai keuntungan yang dihasilkan dari aktivitas bisnis waralaba tersebut lebih banyak mengalir ke perusahaan pusat, sementara kontribusi langsung mereka terhadap ekonomi lokal dinilai relatif kecil.

Baca Juga |  Acara Maulid Masyarakat Pijay di Jakarta Siap Digelar di TMII, Kehadiran Faisal Mhd SE Jadi Sorotan

“Keberadaan waralaba ini perlu dievaluasi secara serius. Jangan sampai mereka berkembang pesat di Aceh, tetapi manfaat ekonominya justru lebih banyak dinikmati di luar daerah,” ujar Armiyadi, Sabtu 7 Maret 2026.

Selain berdampak pada pedagang kecil, Armiyadi juga menyoroti minimnya keterlibatan pelaku usaha lokal dalam rantai pasok produk yang dijual di minimarket tersebut. Banyak produk yang dipasarkan berasal dari distributor luar daerah, sehingga peluang bagi UMKM Aceh untuk berkembang dinilai belum optimal.

Padahal, menurutnya, jika dikelola dengan kebijakan yang tepat, sektor ritel modern seharusnya dapat menjadi ruang bagi produk-produk lokal untuk berkembang dan bersaing di pasar yang lebih luas.

Baca Juga |  Polres Pidie Dukung Program Nasional Presiden melalui Gerakan ASRI

Armiyadi juga menyoroti minimnya keterlibatan perbankan daerah dalam operasional gerai ritel modern tersebut. Menurutnya, hingga kini banyak gerai Indomaret dan Alfamart di Aceh belum menjalin kerja sama dengan Bank Aceh, terutama dalam penggunaan sistem pembayaran digital QRIS milik bank daerah tersebut.

Padahal, jika transaksi di gerai-gerai ritel modern dapat menggunakan QRIS Bank Aceh, maka perputaran ekonomi dan potensi pendapatan daerah dinilai akan lebih besar, karena sebagian keuntungan transaksi dapat kembali memperkuat sektor keuangan daerah.

Baca Juga |  Tgk. Asnawi Sampaikan Tausiah Maulid Nabi di Gampong Blang Cut

Karena itu, ia meminta pemerintah Aceh melakukan kajian menyeluruh terhadap kebijakan perizinan ritel modern. Evaluasi tersebut diharapkan dapat menghasilkan kebijakan yang lebih berpihak kepada penguatan ekonomi masyarakat lokal.

“Pemerintah harus memastikan bahwa setiap investasi yang masuk benar-benar memberi manfaat bagi daerah. Jika tidak memberikan dampak signifikan bagi perekonomian Aceh, maka perlu ada penataan ulang,” tegasnya.

DPRA berharap ke depan kebijakan terkait ritel modern dapat disusun secara lebih selektif, dengan mempertimbangkan keberlangsungan usaha masyarakat kecil serta perlindungan terhadap ekonomi lokal di Aceh.

 

Share :

Baca Juga

Daerah

Sekjen PP IWO Lia Telly Natalia Soroti Peran Perempuan dalam Moderasi Beragama

Daerah

Kapolres Pidie Periksa Senjata Api Dinas Organik dan Pastikan Penggunaan Sesuai Prosedur

Daerah

Bupati Pidie Jaya Dampingi Mendikdasmen Abdul Mu’ti Resmikan Fasilitas Pendidikan Baru di Sejumlah Sekolah

Headline

BPJS Kesehatan Jamin Layanan JKN Optimal Selama Arus Mudik dan Balik Lebaran 2026

Daerah

Polda Aceh Gelar Pemeriksaan Senjata Api

Daerah

Sekjen PP IWO Perempuan Indonesia Masuk Daftar Empat Perempuan Inspiratif Pendamping Pengungsi Suaka

Daerah

IPTU Mirzan, Eks Pemberantas Jaringan Narkoba BNN Kini Jabat Kasat Reskrim Polres Pidie

Daerah

IPTU Mirzan, Eks Pemberantas Jaringan Narkoba BNN Kini Jabat Kasat Reskrim Polres Pidie