Bireuen – nusaone.id
Tokoh kharismatik Aceh, Tgk Muhammad Yusuf yang akrab disapa Abiya Jeunib, kembali menyuarakan pesan moral yang kuat kepada masyarakat Aceh di tengah kondisi pascabanjir. Melalui pendekatan filosofis yang menyejukkan namun tegas, Abiya Jeunib mengajak masyarakat untuk menjaga marwah demi martabat orang Aceh, khususnya dalam mendidik anak-anak.
Abiya Jeunib dikenal sebagai ulama yang memiliki kepedulian tinggi terhadap anak yatim piatu dan fakir miskin. Ia memimpin sebuah lembaga sosial yang menaungi ratusan anak yatim, baik dalam bidang pendidikan maupun pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Kepedulian tersebut tercermin dalam sikap dan pesan-pesan sosial yang konsisten ia sampaikan kepada publik.
Dalam pesannya, Abiya Jeunib menyoroti fenomena anak-anak yang turun ke jalan meminta bantuan kepada pengguna jalan dengan alasan dampak banjir. Menurutnya, bentuk empati dan solidaritas sosial tidak boleh dilakukan dengan cara yang membahayakan keselamatan anak serta berpotensi membentuk mental ketergantungan sejak dini.
“Banjir boleh menguji ketahanan hidup, tetapi tidak boleh mengikis adab dan pendidikan anak-anak kita. Jalan raya bukan ruang belajar bagi mereka,” ujar Abiya Jeunib.
Ia menegaskan bahwa nilai-nilai kehidupan masyarakat Aceh mengajarkan kemandirian, kehormatan, serta tanggung jawab orang tua dalam menjaga masa depan generasi penerus. Oleh karena itu, ia mengajak orang tua, aparatur gampong, dan tokoh masyarakat untuk bersama-sama mengawasi serta mengedukasi anak-anak agar tetap berada di lingkungan yang aman dan produktif.
Selain itu, Abiya Jeunib juga mengingatkan agar penyaluran bantuan pascabanjir dilakukan melalui mekanisme yang tepat, terkoordinasi, dan bermartabat, tanpa melibatkan anak-anak di ruang publik yang berisiko.
Pesan yang disampaikan Abiya Jeunib diharapkan mampu menggugah kesadaran kolektif masyarakat Aceh untuk bangkit dari bencana dengan tetap menjunjung nilai-nilai luhur, kemanusiaan, dan pendidikan sebagai fondasi utama kehidupan sosial. Menjaga marwah di tengah bencana, menurutnya, adalah bagian dari menjaga martabat kita sebagai orang Aceh.



















