nusaone.id – Banda Aceh – Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Kota Banda Aceh memperkuat sistem komunikasi kebencanaan melalui partisipasi dalam simulasi Early Warning System (EWS) bencana banjir yang digelar dalam rangka menyambut Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2026, Minggu (26/4/2026).
Kegiatan ini berlangsung sejak pagi hingga siang hari di sejumlah titik rawan banjir di Kota Banda Aceh, dengan melibatkan berbagai unsur lintas sektor.

Simulasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana banjir, terutama saat musim hujan yang kerap melanda wilayah tersebut.
Sejumlah lokasi yang menjadi titik simulasi meliputi kawasan permukiman padat penduduk, ruas jalan yang sering tergenang, serta titik-titik yang telah ditetapkan sebagai lokasi evakuasi sementara.
Kegiatan ini melibatkan RAPI, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, dinas sosial, tenaga medis, serta masyarakat setempat yang turut berpartisipasi aktif.
Dalam pelaksanaannya, peserta menjalankan skenario penanganan bencana secara terpadu, dimulai dari deteksi dini potensi banjir, penyebaran informasi peringatan, hingga proses evakuasi warga ke tempat yang lebih aman.
RAPI berperan penting dalam mendukung penyebaran informasi peringatan dini melalui jaringan komunikasi radio yang menjangkau hingga ke tingkat gampong.
Ketua RAPI Kota Banda Aceh, JZ01 ADH (Daniel Abdul Wahab), menegaskan bahwa komunikasi menjadi faktor kunci dalam keberhasilan sistem peringatan dini saat bencana terjadi.
“Dalam kondisi darurat, jaringan komunikasi RAPI tetap dapat berfungsi meskipun jalur komunikasi utama mengalami gangguan,” ujarnya.
Selain fokus pada evakuasi, simulasi ini juga mencakup penanganan korban di pos pengungsian, termasuk pemberian pertolongan pertama bagi warga yang mengalami kelelahan maupun cedera ringan.
Untuk mendukung efektivitas kegiatan, tim juga memanfaatkan teknologi drone guna memantau kondisi lapangan dari udara.
Perwakilan BPBD Kota Banda Aceh mengapresiasi keterlibatan seluruh pihak dalam kegiatan tersebut, yang dinilai menjadi wujud nyata kolaborasi lintas sektor dalam penanggulangan bencana.
Ia menyebutkan bahwa simulasi ini juga menjadi sarana evaluasi guna mengidentifikasi berbagai kendala yang dihadapi di lapangan.
Beberapa kendala yang ditemukan antara lain akses jalan yang sempit serta keterbatasan alat bantu evakuasi di sejumlah titik.
Kegiatan kemudian ditutup dengan rapat evaluasi guna menyempurnakan prosedur serta meningkatkan kesiapan semua pihak dalam menghadapi potensi bencana di masa mendatang.
Melalui simulasi ini, diharapkan kesiapsiagaan masyarakat Kota Banda Aceh semakin meningkat sehingga risiko dan dampak bencana banjir dapat diminimalkan.
(Tim Redaksi Putra Chan/Arju Na Fahlefi)
Rapi wilayah Banda Aceh mengikuti Simulasi Bencana bersama BPBD dan instalasi lainnya

















