nusaone.id – Biteun – Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, menegaskan pentingnya memperkuat sinergi antara ulama dan umara sebagai fondasi utama pembangunan daerah yang berlandaskan nilai-nilai keislaman.
Hal tersebut disampaikan saat dirinya melakukan silaturahmi ke kediaman Tu Amad—putra ulama kharismatik almarhum Abu Tumin Blang Blahdeh—di kompleks Dayah Madinatuddinah Miftahussalam, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen, Jumat (1/5).
Kunjungan itu turut didampingi anggota DPD RI asal Aceh, Tgk. H. Ahmada. Kehadiran Fadhlullah yang akrab disapa Dek Fadh disambut hangat oleh Tu Amad dan Tu Haidar dalam suasana penuh kekeluargaan.
Dalam pertemuan tersebut, Fadhlullah menegaskan bahwa hubungan antara ulama dan umara bukan sekadar simbolik, melainkan memiliki akar historis kuat dalam perjalanan peradaban Aceh.
“Sejarah Aceh menunjukkan bahwa kemajuan lahir dari kolaborasi erat antara ulama dan umara. Ini adalah kekuatan strategis yang harus terus dijaga dan diperkuat,” ujarnya.
Menurutnya, dayah memiliki peran penting yang melampaui fungsi pendidikan keagamaan semata. Dayah juga menjadi pusat pembinaan moral, sosial, dan budaya masyarakat, sehingga perlu didukung melalui kebijakan yang terintegrasi dengan peran ulama.
“Pembangunan Aceh tidak boleh lepas dari identitas keislaman dan kearifan lokal. Di sinilah peran dayah menjadi sangat strategis,” tambahnya.
Sementara itu, Tu Amad menyambut baik kunjungan tersebut sebagai bentuk perhatian pemerintah terhadap ulama dan keberadaan dayah. Ia berharap silaturahmi tersebut dapat berlanjut dalam bentuk komunikasi yang berkesinambungan dan program nyata bagi masyarakat.
Komitmen Fadhlullah dalam membangun kedekatan dengan ulama dan masyarakat terlihat dari pendekatannya yang aktif turun langsung ke lapangan. Ia kerap membuka ruang dialog untuk menyerap aspirasi secara langsung.
Pendekatan tersebut juga terlihat saat ia meninjau wilayah terdampak banjir di Aceh Tengah. Meski menghadapi medan yang sulit, Fadhlullah tetap menjangkau masyarakat, bahkan sempat mengalami insiden terbaliknya rakit penyeberangan di kawasan Pameu.
Rangkaian kunjungan ke berbagai wilayah di Aceh, mulai dari pantai barat selatan hingga kawasan tengah, menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam memperkuat komunikasi sekaligus memetakan kebutuhan riil pembangunan.
Kunjungan di Bireuen ini menjadi salah satu langkah konkret Pemerintah Aceh dalam mempererat hubungan ulama dan umara, sekaligus memperkuat peran dayah sebagai pilar pembangunan daerah ke depan.
(**)


















